Setiap kita tentu tidak bisa lepas dari aktivitas ekonomi. Dalam artian Ekonomi ini ada segala kegiatan manusia yang berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi terhadap barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Seiring berkembangnya jaman kegiatan untuk menenuhi kebutuhan hidup ini menjadi lebih mudah, efektif dan efisien. Teknologi digital yang merasuk ke bidang ekonomi ini melahirkan suatu ekonomi baru yang dikenal dengan nama ekonomi digital. Dengan kemajuan ini maka kegiatan ekonomi dapat dilakukan melalui jaringan internet dan web sehingga lebih cepat. Adanya internet dan web ini memungkinkan tranfer data dan informasi dari tempat yang berjauhan berlangsung sekejab dalam hitungan detik.
Mudahnya begini. Di kantor saya lapar ingin beli makanan. Kalau tanpa penerapan ekonomi digital maka saya perlu ijin keluar kantor membeli makanan yang tentunya memakan waktu dan tenaga sehingga tidak efektif dan efisien. Tapi dengan penerapan ekonomi digital maka saya hanya perlu menggunakan smartphone untuk memesan makanan. Saya cuma perlu waktu memasukkan data saya, data pesanan saya, data lokasi saya pada aplikasi/web di smartphone maka akan terekam sebagai data digital yang kemudian data tersebut diteruskan ke smartphone kurir pengantar makanan dan/atau resto penyedia makanan.
Tentu saja dalam hal ini saya sebagai konsumen, lalu kurir dan resto harus sama-sama menggunakan smartphone yang memanfaatkan penerapan ekonomi digital.
Tapi tidak semua orang baik konsumen, kurir maupun produsen mau memanfaatkan ekonomi digital tapi bertahan dengan cara konvensional. Entah karena telah terbiasa dengan cara konvensional, tidak mengerti cara memakai teknologi digital, atau alasan keamanan.
Memang dengan teknologi digital ada kekurangannya. Mungkin saja era ekonomi digital ini memicu munculnya copet-copet digital yang memanfaatkan sistem ekonomi digital untuk mencuri atau menyalahgunakan data konsumen. Cukup banyak terdengar juga keluhan konsumen yang menggunakan smartphone sebagai dompet digital untuk bertransaksi itu mendadak saldo nya ludes jadi korban copet digital gara-gara tidak sadar tertipu sehingga memberi kode OTP kepada si copet digital. Problem ini kiranya cukup diatasi dengan sikap waspada, tidak memberikan data OTP kepada siapapun.
Kemudahan transaksi pada era ekonomi digital ini juga memicu orang menjadi konsumtif, senang belanja yang sebetulnya tidak betul-betul diperlukan. Entah karena ikut-ikutan, gengsi, coba-coba cara belanja baru, termakan iklan promosi dan sebagainya. Kalau masalah ini sebenarnya bisa diatasi dari diri sendiri dengan pengendalian diri. Baiknya tiap orang mensetting diri untuk cenderung memanfaatkan ekonomi digital untuk kegiatan yang produktif daripada konsumtif. Jika belanja hendaknya belanja produk-produk investasi seperti emas, ORI, reksadana, saham, asuransi dll.
Dengan penerapan ekonomi digital ini juga memungkinkan produsen baik barang atau jasa itu melakukan promosi yang lebih efektif dan efisien. Tidak jarang pula promosi itu menggunakan kata-kata yang menjebak, berbau iming-iming yang menarik padahal PHP, bersifat untung-untungan, memicu konsumen membeli berdasar keinginan bukan kebutuhan sehingga akhirnya merugikan konsumen.
Pada promo ditulis Gratis besar-besar tapi ada syaratnya ini itu. Syaratnya ada yang mudah dan wajar, ada yang ambigu, ada pula yang ribet harus beli ini itu sekian rupiah.
Ada pula promo belanja hemat cashback 50% maksimal Rp30.000 tapi ada embel-embel cashbacknya acak dan kuota terbatas, hanya didapat bagi pelanggan yang beruntung. Ini berarti kalau kurang beruntung berarti tidak jadi hemat.
Ada pula promo yang bersifat pancingan dengan uang Rp6000 atau Rp8.000 atau Rp10.000 itu untuk memancing pelanggan agar berbelanja minimal merogoh kocek digitalnya Rp22.000 bahkan lebih. Itupun sedikitnya mengandung siasat memanfaatkan rasa malu pelanggan bila transaksi dengan nominal minimum. Sekiranya ada saja pelanggan yang malu jika transaksi minimal sehingga transaksi sedikit dibesarkan padahal sebenarnya tidak perlu melakukan transaksi itu. Hanya gara-gara pancingan tadi sehingga melakukan transaksi.
Dan yang menjijikan dari promo ini adalah jika promo ini tidak sesuai yang dijanjikan meskipun syarat ketentuan telah diikuti itu komplainnya susah. Mau komplain kemana? Komplain melalui aplikasi, instagram, email atau konter CS itu responnya lambat, respon tidak nyambung, respon sekenanya atau bahkan tidak direspon.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar